Manusia dan Kesusastraan
Pendekatan Kesusastraan
Ilmu Budaya Dasar sangat erat kaitan nya dengan Bahasa
dan kesusastraan. Sastra sendiri berasal kata shastra (Sansekerta) yang berarti
"teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman". Dalam
Bahasa Indonesia kesusastraan diartikan sebagai sebuah jenis tulisan yang
memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra adalah sebuah karya yang diawali
dengan kemurnian yang diisi dengan kesungguhan. Sastra juga seni yang pada
mulanya adalah proses dari manusia dan dapat dilihat dari kreatifitas manusia.
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai
hasil imajinasi pengarang serta refleksi terhadap gejala-gejala sosial di
sekitarnya. Kehadiran karya sastra merupakan
bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai objek
individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya kepada objek kolektifnya. Penggabungan
objek individual terhadap realitas sosial yang ada di sekitarnya
menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur masyarakat tertentu.
Melalui sastra, pola pikir seseorang atau kelompok masyarakat dapat
terpengaruh. Karena sastra merupakan salah satu kebudayaan, sedangkan salah
satu unsur kebudayaan adalah sebagai sistem nilai. Oleh karena itu, di dalam
sebuah karya sastra tentu akan terdapat gambaran-gambaran yang merupakan sistem
nilai. Nilai-nilai yang ada itu kemudian dianggap sebagai kaidah yang dipercaya
kebenarannya, sehingga pola pikir masyarakat dapat terbentuk melalui karya
sastra.
Karya sastra berfungsi untuk menginventarisasikan
sejumlah kejadian yang ada di masyarakat. Seluruh kejadian dalam karya sastra
merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi pada kehidupan
sehari-hari. Sebagai fakta kultural, karya sastra dianggap sebagai representasi
kolektif yang secara umum berfungsi sebagai sarana untuk memperjuangkan
aspirasi dan kencenderungan komunitas yang bersangkutan. Kedudukan sastra dalam
kecenderungan ini sangat penting, terutama untuk mengangkat harkat dan martabat
manusia dalam gejala yang selalu berubah. Pengarangmenciptakan karya
sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu,
karya sastra dapat diartikan sebagai suatu gambaran mengenai kehidupan
sehari-hari di masyarakat. Adanya realitas sosial dan lingkungan yang
berada di sekitar pengarang menjadi bahan dalam menciptakan karya sastra
sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan yang erat dengan
kehidupan pengarang maupun dengan masyarakat yang ada di sekitar pengarang.
Budaya di negara ini sangat erat kaitan nya dengan
sastra. Peranannya sangat luas, namun pada umumnya adalah untuk meluangkan isi
hati atau perasaan, kadang juga hanya digunakan sebagai pengingat atau simbol
dari masa lalu. Bila ciri kebudayaan itu kita letakan pada sastra dan kita
kaitkan pula dengan masyarakat yang menggunakan sastra itu, maka kita dapat
mengatakan bahwa nilai suatu sastra itu pada umumnya terletak pada masyarakat
itu sendiri. Kesustraan itu pada dasarnya bukan saja mempunyai fungsi dalam
masyarakat, tetapi juga mencerminkan dan menyatakan segi-segi yang
kadang-kadang kurang jelas terlihat dalam masyarakat. Sebagaimana juga dengan
karya seni yang lain, sastra mempunyai fungsi sosial dan fungsi estetika. Dapat
dikatakan bahwa semua manusia khususnya bangsa Indonesia tidak asing dengan
sastra. Hal ini adalah penyebab mengapa masyarakat Indonesia selalu
mempelajari sastra.
Nilai-Nilai
dalam Prosa
Pada
sebuah prosa terkandung nilai-nilai yang diantaranya :
1.
Nilai kesenangan
Pembaca mendapat pengalaman atas peristiwa atau
kejadian yang dikisahkan dan dapat berimajinasi untuk mengenal daerah atau
tempat asing yang belum pernah dikunjungi , atau mengenal tokoh aneh atau asing
tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya.
2. Memberikan informasi
Memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di
dalam ensiklopedi. Dalam novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada
sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa
lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama
sekali.
3.
Warisan cultural
Mengungkapkan impian-impian, prosa dapat menstimuli
imaginasi, aspirasi generasi terdahulu yang seharusnya dihayati generasi kini
dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-henti dari warisan budaya
bangsa.
4.
Keseimbangan
wawasan
Dapat
memperluas dan memperdalam persepsi dan wawasannya tetang tokoh, kehidupan
manusia, sehingga akan terbentuk keseimbangan, terutama menghadapi kenyataan
diluar dirinya yang mngkin berlainan pribadinya. Prosa juga memungkinkan lebih
banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi
yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sehari.
Ilmu Budaya
Dasar Dikaitkan dengan Prosa
Sebelum membahas mengenai hubungan/ikatan Ilmu Budaya Dasar dan prosa, terlebih dahulu kita simak pengertian dari Ilmu
Budaya Dasar dan prosa.
Ilmu budaya
dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang
konsep-konsep budaya atau kebudayaan yang berada dilingkungan sekitar ataupun
didaerah lain, Budaya itu sendiri merupakan cipta dari karya
manusia. Dengan budaya, di harapkan hidup manusia akan lebih terarah.
Prosa adalah
sebuah karya sastra yang berbentuk cerita bebas ( dapat berupa naratif atau
fiksi) yang didalamnya memiliki tokoh (pemeran), peristiwa, dan alur. Dalam
pembentukannya, prosa sendiri dapat berbentuk Prosa fiksi dan Prosa Non fiksi.
Prosa fiksi ( prosa baru) pada umumnya berbentuk cerpen, novel, roman, serta
biografi. Sedangkan Novel Non fiksi (prosa lama) dapat berupa dongeng, hikayat
dan sejarah.
Dengan
menghubungkan/mengkaitkan Prosa dan Ilmu Budaya Dasar (IBD), kita diharapkan
dapat memperoleh manfaat yang terkandung dalam prosa itu sendiri. Dengan
memahami prosa, kita dapat mengambil nilai yang terkandung dalam sebuah budaya.
Ada beberapa hunbungan/kaitan antara IBD dan prosa antara lain kesenangan,
informasi, warisan budaya, serta keseimbangan wawasan. Berikut gambaran mengenai sebuah
novel serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Novel ini
berjudul TAIKO, Karya Eiji
Yoshikawa, Novel ini Menceritakan sebuah epik perjalanan hidup sang taiko atau
penguasa Jepang pada abad 17, Toyotomi Hideyoshi. Novel ini berlatar
belakang sejarah carut marut Jepang.
Kisah perang antar tuan tanah [daimyo] berkecamuk selama bertahun-tahun. Ada tiga tokoh penting yang
diceritakan dalam novel ini,yaitu Oda nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan
Tokugawa Ieyasu. Mereka bertiga berusaha
keras mempersatukan jepang yang kacau pada saat itu. Namun setting utamanya adalah perjuangan Hiyoshi [nama kecil
Toyotomi Hideyoshi] untuk menjadi
penguasa tertinggi di kekaisaran jepang, taiko. Hideyoshi adalah anak petani miskin dan tidak bisa memegang gelar
shogun dikarenakan bukan keturunan
samurai. Ia memulai karirnya dengan mengabdi pada Oda Nobunaga, salah satu daimyo [tuan tanah] yang berkuasa saat
itu. Hideyoshi kemudian diangkat
menjadi jendral kepercayaan Nobunaga. Nobunaga sendiri akhirnya tewas bunuh diri setelah mengalami pemberontakan
dari salah satu pengikut kepercayaannya,
Akechi Mitsuhide. Matinya Nobunaga menuntut pembalasan dari Hideyoshi dan anak buahnya. Mitsuhide akhirnya
memilih bunuh diri setelah dikejar-kejar
oleh para pengikut setia Nobunaga. Hideyoshi kemudian melanjutkan cita-cita junjungannya yang tewas itu
untuk mempersatukan Jepang. Dalam
usahanya ini Hideyoshi bersaing keras dengan Tokugawa Ieyasu. Setelah
bebrapa pertarungan sengit antara hideyoshi dan leyasu,akhirnya mereka
melakukan Genjatan Senjata. Dan pada akhirnya Toyotomi Hideyoshi berhasil menjadi pemimpin pemersatu Jepang setelah
menaklukkan klan Gohojo yang merupakan musuh besar terakhir. Hideyoshi akhirnya
berhasil mempersatukan jepang dan diberi gelar Taiko.
Dari gambaran di atas, terdapat nilai-nilai
budaya yang tercermin di dalamnya terutama mengenai kebudayaan jepang. Nilai-nilai tersebut antara lain
:
1.
Kesenangan
Dalam novel ini, sebagian besar menceritakan tentang
sejarah dan peperangan yang munkin sebagian orang akan bosan ditambah novel ini
memiliki fisik yang cukup tebal, namun bagi
sebagian orang novel ini memberikan kesenangan tersendiri karena terdapat hal-hal yang tidak bisa di dapatkan di novel
lainnya.
2.
Informasi
Dalam novel ini banyak sekali
informasi yang saya dapat mulai dari intrik-intrik penguasa kelas atas,
strategi perang, serta intrik politik yang mengagumkan. Ilmu-ilmu
perang dan strategi militer ala Sun Tzu juga ada di dalam novel ini. Sejarah
dan suasana yang dibangun juga sangat detail, hingga mendekati faktanya, sehingga memudahkan pembaca untuk
mengimajinasikannya.
3.
Wawasan budaya
Setelah membaca novel ini, pembaca mendapat
pengetahuan lebih mengenai kebudayaan dan seni yang ada pada masyarakat Jepang,
karena di dalam novel ini ditampilkan juga tradisi Chanoyu,
seni Ninjitsu, pertunjukkan Noh, berbagai Matsuri
(frestival), dan masih banyak lagi kebiasaan masyarakat Jepang pada
masa feodalisme.
4.
Keseimbangan Wawasan
Setelah
membaca novel ini, pembaca dapat menetahui tentang sejarah persatuan jepang, yang dulu pada awalnya mungkin
mengira jepang adalah Negara yang sudah menyatu atau tidak
memiliki konflik internal, tetapi ternyata
pernah terjadi pula konflik/peperangan yang terjadi di jaman sengoku, sejarah
terbentuknya Negara Jepang.
Ilmu Budaya
Dasar Dihubungkan dengan Puisi
Puisi
termasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian
cabang unsur dari kebudayaan. puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair
mengenai kehidupan manusia, alam, tuhan melalui media bahasa yang
artistik/estetik, yang secara padu dan utuh di padatkan kata-katanya.
Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa
puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan
menggunakan:
1. Figura bahasa, seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori,
dsb.
2.
Kata-kata yang
ambiquitas, yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
Kata-kata yang berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah di beri suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
Kata-kata yang berjiwa, yaitu kata-kata yang sudah di beri suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
3.
Kata-kata yang
konotatif, yaitu kata-kata yang sudah di beri tambahan nilai-nilai rasa dan
asosiasi-asosiasi tertentu.
4. Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang di lukiskan,
sehingga lebih menggugah hati.
Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan ilmu budaya dasar adalah :
·
Hubungan puisi
dengan pengalaman hidup manusia.
·
Puisi dan
keinsyafan/kesadaran individual.
·
Puisi dan
keinsyafan sosial.
Macam-macam puisi dibedakan
berdasarkan zaman:
- Puisi baru : Puisi yang muncul
karena pengaruh sastra barat. Puisi baru adalah puisi yang lebih bebas
dalam penggunaan rima, pilihan kata, serta irama.
- Puisi Lama : Puisi yang
mengikuti ketentuan umum pada puisi seperti, rima, irama, dan baris. Jenis
puisi lama :
- Mantra
- Karmina (Pantun singkat)
- Talibun
- Syair
- Gurindam
- Puisi Modern : Puisi bebas yang
muncul pada tahun awal kemerdekaan yang dipelopori oleh Chairil Anwar.
Puisi ini tidak mengutamakan bentuk puisi namun lebih mengutamakan isi dan
makna dari puisi tersebut.
Kepuitisan atau keartistikan puisi
dapat dibangun menggunakan :
- Figura Bahasa (personifikasi,
hiperbola, metafora, dll)
- Kata – kata ambigu
- Kata-kata yang mengandung
perasaan dan pengalaman penyair
- Kata – kata konotatif
- Pengulangan untuk mengintensifkan hal yang dilukiskan
Referensi :
id.wikipedia.org/wiki/Sastra
phianzsotoy.blogspot.com/2010/06/sastra-sebagai-cermin-masyarakat
Komentar
Posting Komentar